“Berau punya kekayaan alam luar biasa, tapi tanpa sumber daya manusia yang unggul, kekayaan ini bisa jadi sia-sia. Saya ingin masyarakat kita jadi pelaku utama, bukan penonton di negeri sendiri,” tegas Bupati Sri Juniarsih Mas
| Editor : Anang Ma
TANJUNG REDEB – Bupati Berau Sri Juniarsih Mas dan Direktur Eksekutif YKAN Herlina Hartanto menyaksikan langsung penandatanganan kerja sama strategis dengan Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) untuk periode 2025–2030, pada Senin (13/10/2025) lalu.
Kolaborasi ini berfokus pada penguatan pengelolaan sumber daya alam berkelanjutan, pembangunan rendah karbon, dan adaptasi terhadap perubahan iklim.
“Berau punya kekayaan alam luar biasa, tapi tanpa sumber daya manusia yang unggul, kekayaan ini bisa jadi sia-sia. Saya ingin masyarakat kita jadi pelaku utama, bukan penonton di negeri sendiri,” tegas Bupati Sri Juniarsih Mas.
Salah satu capaian terbesar kolaborasi Pemkab Berau dan YKAN dalam lima tahun terakhir adalah keberhasilan 77 kampung dan dua kelurahan memperoleh pendanaan dari Bank Dunia melalui program Forest Carbon Partnership Facility–Carbon Fund (FCPF–CF).
Masing-masing kampung menerima dana sekitar Rp349,1 juta, ditambah dukungan bagi 15 kelompok masyarakat hutan dengan nominal antara Rp50–70 juta per kelompok.
Program ini mendorong masyarakat di tingkat tapak untuk menurunkan emisi karbon melalui pengelolaan hutan yang lestari.
“Berau bahkan jadi kabupaten terbaik dalam mendukung program Perhutanan Sosial Nasional (PeSoNa) 2025,” ujar Herlina.
Melalui kerja sama ini, Berau juga mencatat kemajuan signifikan dalam program Perhutanan Sosial.
Sebanyak 31 kelompok masyarakat kini memiliki hak kelola hutan seluas 106 ribu hektare, angka tertinggi dibanding kabupaten lain di Kalimantan Timur.
Keberhasilan ini menjadi bukti nyata peran aktif masyarakat dalam konservasi dan pengelolaan hutan berkelanjutan.
Selain konservasi, program Akademi SIGAP (Aksi Inspiratif Warga untuk Perubahan) juga berhasil mendampingi masyarakat dalam mengembangkan ekonomi berbasis sumber daya alam lestari.
Berbagai produk lokal Berau kini menembus pasar, seperti cokelat batangan, amplang, terasi, ikan kering, udang kering, kerajinan rotan, dan batik mangrove.
Bupati Sri Juniarsih berharap, produk khas Berau ini bisa dikenal secara nasional bahkan internasional.
“Produk-produk ini harus kita kemas dan olah sendiri agar punya nilai jual tinggi. Saya ingin nama Berau dikenal lewat produk unggulannya,” ujarnya.
YKAN bersama Pemkab Berau juga memperkuat sektor kelautan melalui pembentukan UPTD Kawasan Konservasi Kepulauan Derawan dan Perairan Sekitarnya (KKP3K-KDPS).
Unit ini tengah berproses menjadi Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) agar pendanaan pengelolaan laut bisa lebih berkelanjutan.
Di sisi lain, upaya restorasi mangrove terus dilakukan di lahan seluas 200 hektare dengan metode Shrimp–Carbon Aquaculture (SECURE). Model ini menggabungkan tambak udang ramah lingkungan dan penyerapan karbon alami.
Sejak 2002, YKAN (dulu The Nature Conservancy) telah bermitra dengan Pemkab Berau dalam berbagai program konservasi, pemberdayaan masyarakat, dan tata kelola hutan.
Menurut Herlina, keberlanjutan capaian ini harus diperkuat dengan fondasi hukum daerah yang kokoh.
“Kolaborasi ini bukan hanya soal konservasi, tapi bagaimana kita menciptakan masa depan yang sejahtera untuk masyarakat Berau. Landasan hukum penting agar manfaatnya bisa terus dirasakan,” pungkas Herlina (*).
















