Upaya Kabupaten Berau mendorong Festival Adat Bekudung Betiung 2026 masuk dalam Karisma Event Nusantara (KEN) bukan sekadar target birokrasi, melainkan sebuah manifesto penting dalam menjaga keseimbangan antara pelestarian sakralitas adat dan akselerasi ekonomi berbasis komunitas.

SAMBALIUNG – Pariwisata berbasis budaya sering kali dihadapkan pada dilema klasik: bagaimana menjaga keaslian ritual adat di tengah arus komersialisasi industri pelesiran? Jawaban atas tantangan ini tampaknya sedang dirumuskan secara apik oleh masyarakat Kampung Tumbit Dayak bersama Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Berau melalui Festival Adat Bekudung Betiung 2026. Perhelatan tahunan Suku Dayak Ga’ai yang berlangsung pada 24 hingga 30 Juni 2026 ini tidak lagi sekadar menjadi ritual internal, melainkan diproyeksikan sebagai magnet pariwisata nasional.
Langkah strategis Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Berau dengan mendaftarkan festival ini ke dalam kalender nasional Karisma Event Nusantara (KEN) bentukan Kementerian Pariwisata RI patut diapresiasi. Penyelenggaraan event budaya yang terstruktur dan konsisten merupakan instrumen paling efektif untuk memperkenalkan kekayaan lokal ke kancah global sekaligus menghidupkan ekosistem ekonomi kreatif di tingkat tapak.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Berau, Drs. Yudha Budi Santosa, M.Si, menegaskan optimisme pemerintah daerah terhadap potensi besar festival ini. Beliau menekankan bahwa kekuatan utama festival ini terletak pada keaslian nilai yang ditawarkan kepada dunia luar.
“Festival Bekudung Betiung memiliki keunikan budaya, nilai tradisi yang kuat, serta dampak ekonomi yang besar bagi masyarakat. Oleh karena itu, festival ini ditargetkan dapat masuk ke dalam Karisma Event Nusantara (KEN) yang diselenggarakan oleh Kementerian Pariwisata Republik Indonesia,” ujar Yudha menjelaskan urgensi program tersebut.
Target masuk dalam KEN tentu menuntut standar kurasi yang ketat. Kriteria penilaian tidak hanya berfokus pada kemegahan acara, melainkan pada aspek konsistensi, keterlibatan masyarakat adat (community-based tourism), serta keberlanjutan lingkungan dan budaya itu sendiri. Dalam konteks ini, Festival Bekudung Betiung memiliki modal sosial dan kultural yang sangat kokoh.

Secara filosofis, festival ini merupakan peleburan dari dua pilar tradisi penting Dayak Ga’ai. Ritual Bekudung merupakan manifestasi rasa syukur kolektif pasca-panen padi. Ini adalah momen sakral untuk berterima kasih kepada Sang Pencipta atas kelimpahan pangan dan keselamatan yang diberikan selama masa bercocok tanam. Di sisi lain, Betiung merupakan prosesi penyucian diri sekaligus inisiasi adat bagi generasi muda untuk mengukuhkan peran dan tanggung jawab sosial mereka dalam struktur masyarakat adat. Kombinasi kedua ritual ini menyajikan narasi spiritual yang mendalam, sebuah komoditas non-material yang sangat dicari oleh wisatawan minat khusus (special interest tourists) masa kini.
Keunggulan festival tahun 2026 ini terletak pada rancangan kegiatannya yang komprehensif selama tujuh hari penuh. Rangkaian acara yang dimulai pada 24 Juni 2026 diawali dengan tradisi Emnyik Elmin, penyambutan kontingen, serta ritual Bakar Lemang. Tradisi membakar lemang bersama ini bukan sekadar aktivitas kuliner, melainkan simbol perekat sosial dan kebersamaan yang menegaskan bahwa festival ini adalah milik seluruh warga.

Hari kedua, 25 Juni 2026, menjadi jembatan edukasi sejarah yang penting bagi generasi muda dan pendatang. Kunjungan ke Situs Sejarah Rumah Kepala Tua dan Tiang Sejarah memberikan konteks historis yang kuat sebelum para pengunjung menyaksikan sakralnya Prosesi Betiung. Di hari yang sama, atraksi Panjat Piruai disajikan. Atraksi memanen madu hutan dari pohon tinggi dengan peralatan tradisional ini menunjukkan bagaimana masyarakat Dayak Ga’ai secara harmonis berinteraksi dan menjaga kelestarian alam hutan mereka.
Puncak sakralitas berikutnya terjadi pada 26 Juni 2026 melalui Prosesi Bekudung. Setelah ritual spiritual selesai, festival bertransisi menjadi ruang perayaan sosial yang dinamis. Berbagai lomba olahraga tradisional seperti Lomba Tombak, Lomba Sumpit, Lomba Perahu Dayung, Lomba Pulas Kayu, hingga Lomba Engrang yang digelar pada 27 hingga 29 Juni menjadi ajang pembuktian ketangkasan fisik sekaligus pelestarian permainan rakyat yang mulai langka di era digital.
Melalui struktur acara yang dinamis ini, wisatawan tidak hanya diposisikan sebagai penonton pasif, tetapi diajak larut dalam kegembiraan kolektif melalui tradisi Menari dan Jiak Bersama (makan bersama) yang digelar hampir setiap malam. Puncak acara pada 30 Juni 2026 akan ditutup dengan doa bersama dan ramah tamah di Panggung Utama, menegaskan kembali komitmen pelestarian nilai leluhur.
Dari perspektif ekonomi, integrasi ruang promosi bagi pelaku UMKM dan sajian Kuliner Nusantara di sepanjang festival merupakan langkah taktis untuk memastikan dampak ekonomi langsung (direct economic impact). Sektor pariwisata tidak boleh berdiri di menara gading; ia harus mampu menyejahterakan masyarakat sekitar. Ketika wisatawan membelanjakan uangnya untuk kerajinan tangan lokal, penginapan berbasis rumah warga (homestay), dan kuliner khas, di situlah pariwisata berkelanjutan menemukan bentuk terbaiknya.
Menjadikan Festival Adat Bekudung Betiung sebagai bagian dari Karisma Event Nusantara 2026 adalah ikhtiar kolektif yang realistis. Dengan sinergi yang kuat antara Pemerintah Kabupaten Berau, lembaga adat Kampung Tumbit Dayak, serta para pelaku industri kreatif, festival ini tidak hanya akan sukses secara seremonial, tetapi juga mampu mengukuhkan identitas Dayak Ga’ai di panggung dunia tanpa kehilangan kesucian nilai-nilai leluhurnya (PB).
Editor : Pandu R
















