“Di masyarakat sekarang, orang yang fasih berbahasa asing, lebih dianggap intelektual juga dianggap lebih modern. Sehingga banyak keluarga yang lebih memilih mengajarkan bahasa asing di rumah, dibandingkan bahasa Jawa atau bahasa Ibu. Padahal, jika bahasa Jawa tidak lagi digunakan, maka nilai unggah-ungguh yang menjadi karakter masyarakat Jawa juga perlahan hilang,” tegas Syarifatul Sya’diah

TANJUNG REDEB – Tak bisa dipungkiri, saat ini banyak anak lebih fasih berbahasa Indonesia atau bahkan bahasa asing ketimbang bahasa daerahnya sendiri, generasi muda Jawa dinilai semakin jauh dari akar budayanya sendiri, terutama minimnya penggunaan bahasa Jawa di lingkungan keluarga.
Disamping itu, di tengah gempuran teknologi dan budaya populer global, menurunnya minat pada kesenian tradisional seperti wayang, ludruk, dan ketoprak, hingga kurangnya pemahaman tentang adat istiadat serta pakaian adat Jawa menjadi persoalan yang perlu segera diatasi.
“Di masyarakat sekarang, orang yang fasih berbahasa asing, lebih dianggap intelektual juga dianggap lebih modern. Sehingga banyak keluarga yang lebih memilih mengajarkan bahasa asing di rumah, dibandingkan bahasa Jawa atau bahasa Ibu. Padahal, jika bahasa Jawa tidak lagi digunakan, maka nilai unggah-ungguh yang menjadi karakter masyarakat Jawa juga perlahan hilang,” tegas Dr. Hj. Syarifatul Sya’diah, Ketua DPD Ikapakarti Kabupaten Berau.
Selain itu, ia juga menjelaskan masih jarang anak muda yang menggunakan pakaian adat Jawa, seperti beskap, jarik, dan kebaya.
Banyak generasi muda yang mengenakannya hanya pada acara formal tanpa memahami makna dan nilai tradisi di baliknya.
Begitu pula dengan adat istiadat Jawa seperti selamatan, unggah-ungguh terhadap orang tua, dan budaya gotong royong yang mulai memudar dalam kehidupan sehari-hari.
Generasi muda jawa saat ini tumbuh dengan teknologi tinggi, sehingga lebih adaptif terhadap informasi digital, mereka cenderung lebih mandiri dan berani menyuarakan pendapat (asertif) dibandingkan generasi sebelumnya.
“Namun generasi muda Jawa masih memiliki potensi besar dalam merawat budaya jika dikemas dengan cara yang modern dan inovatif” imbuhnya.
Ia juga menjelaskan permasalahan lain muncul dari minimnya paparan kesenian tradisional kepada anak, Ia menilai bahwa wayang kulit, ludruk, dan gamelan kini kalah saing dengan hiburan digital yang lebih instan.
“Padahal kesenian tradisional mengandung nilai moral, filosofi hidup, dan kreativitas tinggi. Sayangnya, anak-anak jarang diperkenalkan, bahkan sebagian tidak mengenalnya sama sekali,” ujarnya.
Untuk itu, Ia menekankan perlunya aksi konkret untuk mengatasi pergeseran budaya tersebut. Sebab, penguatan peran keluarga, pendidikan berbasis budaya lokal, serta kreativitas dalam mengemas seni tradisional dinilai dapat menjadi solusi.
Ia berharap masyarakat Jawa semakin sadar bahwa pelestarian budaya dimulai dari rumah, sejak usia dini, dan pun harapannya agar generasi muda punya peranan penting untuk terus mempertahankan nilai budaya Jawa di era modern saat ini (*).
| Editor : Anang Ma
















