“Harapan saya, ini harus dijaga dan ditingkatkan, berkelanjutan tadi. Kalau mau meningkat, harus ada kolaborasi dengan berbagai pihak,” tegas Yudha

Talisayan – Festival Rindu Dumaring (FRD) 2026 resmi berakhir setelah sebulan penuh menghidupkan seni, budaya, tradisi dan potensi wisata masyarakat Kampung Dumaring, Kecamatan Talisayan, Kabupaten Berau.
Penutupan festival yang mengusung tema “Menyulam Rindu, Menyemai Warisan” itu digelar Sabtu (5/9/2026).
Berbeda dari pelaksanaan perdana pada 2023 yang hanya berlangsung satu hari, FRD tahun ini digelar lebih panjang, sejak 8 Agustus hingga 5 September 2026.
Bukan sekadar menghadirkan pertunjukan, FRD 2026 membawa misi lebih besar: menjaga warisan budaya, memperkuat kapasitas masyarakat, mengenalkan potensi wisata sekaligus mendorong ekonomi lokal.
Penutupan dihadiri Asisten I Setda Berau M. Hendratno yang mewakili Bupati Berau, didampingi Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Berau Yudha Budisantosa.
Sejumlah pejabat dan pemangku kepentingan turut hadir, di antaranya Camat Talisayan Mutmainah, Kepala Kampung Dumaring Salehuddin, Kapolsek Talisayan Iptu Rahmat, Danramil Talisayan, Kepala UPT KPH Berau Pantai Hamzah, serta pimpinan PT Jabontara Eka Karsa.
Rangkaian FRD 2026 diawali dengan kirab budaya.
Peserta memulai perjalanan dari halaman depan SDN 001 Dumaring hingga berakhir di area entrance dan parkir TSD.
Setelah itu, berbagai pertunjukan seni budaya serta perlombaan digelar untuk melibatkan masyarakat secara langsung.
Permainan tradisional, keterampilan tradisional hingga seni budaya menjadi bagian dari rangkaian kegiatan.
Namun, ada hal yang membuat FRD tahun ini berbeda.
Tradisi tidak hanya dipertontonkan.
Masyarakat dan pengunjung juga diberi kesempatan belajar langsung dari para maestro dan tetua masyarakat asli Dumaring.
Pengetahuan yang selama ini diwariskan secara turun-temurun coba dijaga agar tidak berhenti pada satu generasi.
Warga kampung wisata juga mendapat pembelajaran kecakapan bersama praktisi profesional.
Tujuannya, meningkatkan kemampuan masyarakat agar semakin siap mengembangkan potensi kampung wisata secara mandiri.
Generasi muda pun tidak luput dari perhatian.
Melalui lomba fotografi dan videografi, mereka diajak melihat Dumaring dari sudut pandang kreatif.
Alam, budaya, kehidupan masyarakat dan destinasi wisata Dumaring diabadikan melalui karya visual.
Dari sisi ekonomi, FRD 2026 juga menjadi etalase bagi produk lokal.
Kuliner khas Dumaring dan berbagai produk unggulan UMKM hadir sepanjang festival.
Kehadiran produk lokal tersebut tidak hanya menjadi pelengkap acara, tetapi juga membuka ruang bagi masyarakat untuk memperkenalkan sekaligus memasarkan hasil kreativitas mereka.
Ada alasan lain mengapa pelaksanaan FRD 2026 terasa semakin bermakna.
Rangkaian festival bertepatan dengan Hari Masyarakat Adat Sedunia atau International Day of the World’s Indigenous Peoples yang diperingati setiap 9 Agustus.
Momentum tersebut mempertegas posisi festival sebagai ruang untuk merawat identitas, tradisi dan pengetahuan masyarakat adat.
Bukan hanya untuk dikenang, tetapi untuk terus diwariskan kepada generasi berikutnya.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Berau Yudha Budisantosa melihat Dumaring memiliki potensi yang masih sangat mungkin dikembangkan.
Kekayaan alam yang dipadukan dengan kegiatan budaya dinilai menjadi modal penting untuk memperkuat daya tarik Dumaring sebagai destinasi wisata.
Namun, Yudha mengingatkan agar pengembangan tidak dilakukan secara instan.
Menurutnya, keberlanjutan dan kolaborasi menjadi kunci.
“Harapan saya, ini harus dijaga dan ditingkatkan, berkelanjutan tadi. Kalau mau meningkat, harus ada kolaborasi dengan berbagai pihak,” tegas Yudha.
Pesan tersebut menjadi salah satu catatan penting dalam penutupan FRD 2026.
Festival boleh berakhir, tetapi pengembangan potensi Dumaring harus terus berjalan.
Rangkaian terakhir festival ditandai dengan penanaman pohon secara simbolis.
Kegiatan tersebut menjadi simbol komitmen untuk menjaga penghijauan, kelestarian alam dan lingkungan Kampung Dumaring.
Pesannya sederhana, tetapi penting.
Kampung wisata tidak cukup hanya memiliki budaya dan destinasi menarik. Alam yang menjadi rumah bagi seluruh kekayaan tersebut juga harus dijaga.
Karena itu, FRD 2026 ditutup dengan tiga pesan besar: warisan budaya harus dirawat, potensi wisata harus dikembangkan, dan alam harus tetap lestari.
Sebulan penuh Festival Rindu Dumaring akhirnya berakhir.
Namun bagi masyarakat Dumaring, penutupan tersebut bukanlah akhir.
Justru menjadi awal untuk membawa semangat “Menyulam Rindu, Menyemai Warisan” ke dalam kehidupan masyarakat sehari-hari—agar budaya tetap hidup, ekonomi lokal terus tumbuh, dan alam Dumaring tetap terjaga untuk generasi mendatang (*).
















