Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example 728x250
TALISAYAN

Tulak Bala Buang Naas, Tradisi Bahari Talisayan Yang Terus Dijaga

×

Tulak Bala Buang Naas, Tradisi Bahari Talisayan Yang Terus Dijaga

Sebarkan artikel ini

“Karena masyarakat Talisayan sangat dekat dengan laut, kami berharap seluruh aktivitas masyarakat di pesisir selalu diberikan perlindungan dan keselamatan. Tradisi ini juga menjadi sarana silaturahmi sekaligus identitas daerah,” ujarnya

Example 300x600

TALISAYAN – Masyarakat Kampung Talisayan terus menjaga tradisi Adat Bahari Tulak Bala Buang Naas sebagai bentuk doa bersama, sekaligus upaya melestarikan budaya dan mempererat silaturahmi.

Tradisi tersebut digelar di Pendopo Kecamatan Talisayan, Selasa (12/8/2026), dengan mengusung tema “Merawat Silaturahmi, Melestarikan Adat Bahari untuk Talisayan Berkah dan Harmoni”.

Kegiatan ini dihadiri Wakil Bupati Berau Gamalis bersama masyarakat dan unsur pemerintahan setempat.

Tradisi Tulak Bala Buang Naas menjadi bagian pembuka rangkaian HUT Kampung Talisayan sekaligus HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Kepala Kampung Talisayan, Ali Wardana, mengatakan tradisi tersebut telah diwariskan secara turun-temurun. Selain menjadi doa bersama untuk memohon perlindungan dan keselamatan, kegiatan ini juga menjadi bagian dari identitas masyarakat pesisir.

“Karena masyarakat Talisayan sangat dekat dengan laut, kami berharap seluruh aktivitas masyarakat di pesisir selalu diberikan perlindungan dan keselamatan. Tradisi ini juga menjadi sarana silaturahmi sekaligus identitas daerah,” ujarnya.

Salah satu prosesi utama adalah Buang Naas, ditandai dengan penyiraman air linjuang yang sebelumnya telah didoakan kepada perwakilan anak masyarakat kampung. Prosesi diawali tetua adat dan dilanjutkan Wakil Bupati Gamalis bersama unsur pemerintahan dan masyarakat.

Gamalis mengapresiasi masyarakat yang tetap mempertahankan tradisi tersebut. Menurutnya, adat bahari Talisayan memiliki nilai budaya sekaligus potensi mendukung pengembangan pariwisata pesisir selatan Berau.

“Ini bagian dari kebudayaan masyarakat Talisayan yang harus kita jaga. Kita ingin masyarakat terus maju, tetapi tidak kehilangan jati dirinya,” katanya.

Ia juga mengingatkan tantangan pelestarian budaya di tengah perkembangan teknologi dan derasnya informasi media sosial. Karena itu, generasi muda perlu dilibatkan agar tradisi tidak terputus.

Gamalis berharap pelestarian adat dapat berjalan beriringan dengan pengembangan pariwisata. Tradisi lokal dinilai dapat menjadi identitas sekaligus daya tarik yang memperkaya pengalaman wisatawan di wilayah pesisir Berau (*).

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *