Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example 728x250
TANJUNG REDEB

Atasi Krisis Lingkungan, DLHK Gandeng Instansi Lain Edukasi Pilah Sampah Sejak Dini

×

Atasi Krisis Lingkungan, DLHK Gandeng Instansi Lain Edukasi Pilah Sampah Sejak Dini

Sebarkan artikel ini

“Masyarakat membandingkan seperti di Jepang, bahkan anak-anaknya sejak PAUD sudah diberi pendidikan memilah sampah. Maka dari itu ‘ayo’ (membuat perubahan),” kata Kepala DLHK Berau, Mustakim Suharjana saat dijumpai di Ruang Kerja Kantornya

| Editor : Anang Ma

Example 300x600

TANJUNG REDEB – Memilah sampah sejak dini menjadi kunci untuk mengatasi krisis lingkungan yang terjadi, dengan jumlah sampah yang terus meningkat hingga 130 ton per hari di Kabupaten Berau, pemilahan sampah sejak dini menjadi langkah penting dalam mengatasi krisis lingkungan.

Dinas Lingkungan Hidup Dan Kebersihan (DLHK) Berau, menggandeng Dinas Pendidikan Kabupaten Berau serta Dinas DPPKBP3A Kabupaten Berau untuk meningkatkan edukasi memilah sampah sejak usia sekolah.

“Masyarakat membandingkan seperti di Jepang, bahkan anak-anaknya sejak PAUD sudah diberi pendidikan memilah sampah. Maka dari itu ‘ayo’ (membuat perubahan),” kata Kepala DLHK Berau, Mustakim Suharjana saat dijumpai di Ruang Kerja Kantornya.

Terkait upaya menumbuhkan budaya memilah sampah, kata dia, hal tersebut perlu kolaborasi antarpihak. Misalnya, Dinas Pendidikan (Disdik) yang mungkin bisa memberikan pembelajaran kepada anak usia sekolah terkait pemilahan sampah.

Dengan kondisi masyarakat yang belum sepenuhnya sadar tentang pemilahan sampah, Ia pun mengakui bahwa sosialisasi ke masyarakat khususnya pada anak-anak belum masif.

“Kalau dalam strata persampahan, meminta masyarakat memilah sampah itu strata tertinggi. Makanya pelan-pelan. Orang selalu membandingkan dengan negara luar seperti Jepang, Singapura, tapi disuruh pilah sampah nggak mau,” kata Mustakim.

Untuk itu, Ia mengatakan, retribusi sampah dilakukan sebagai upaya meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap budaya pemilahan sampah.

Dengan adanya kebijakan tersebut, Ia berharap masyarakat nantinya bisa tersadarkan dan mau memilah sampahnya dari rumah.

“Kalau polanya cuma mengandalkan tukang gerobak sampah, selamanya Berau khususnya Tanjung Redeb akan kayak begini. Kalau mau berubah, maka harus ada upaya. Kita kasih ‘effort‘ sedikit dengan retribusi,” kata Mustakim.

Apabila masyarakat dewasa sudah memiliki kesadaran memilah sampah, harapannya adalah budaya tersebut akan terus berkembang ke anak-anak. “Sehingga nantinya sampah Berau bisa terkelola dengan cepat dan baik,” katanya (*).

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *