Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example 728x250
TANJUNG REDEB

Berau, Kota Tambang Yang Bersiap Jadi Kota Pariwisata

×

Berau, Kota Tambang Yang Bersiap Jadi Kota Pariwisata

Sebarkan artikel ini

“Berau hidup dari sumber saya alam (SDA) seperti tambang, sawit dan bahari. Tambang pasti habis dan harus bertransisi ke SDA lain, yaitu pariwisata,” ucap Bupati

| Editor : Anang Ma

Example 300x600

TANJUNG REDEB – Sejak lama, Berau dikenal sebagai ‘Kota Tambang’. Kabupaten Berau menjadi salah satu penghasil batu bara terbesar di Indonesia. Hal ini tervalidasi dari aktivitas tambang yang begitu kentara di jantung kota, Tanjung Redeb. Namun kini, Berau ingin lebih dikenal karena pariwisatanya.

Kapal-kapal besar pengangkut batu bara lalu lalang di Sungai Berau, pekerja-pekerja tambang tampak lumrah, topi proyek, baju proyek dan sepatu safety masif digunakan oleh pria maupun wanita.

Namun, Berau menghadapi krisis nyata. Mineral yang dulu jadi kebanggaan kini mulai menipis, bahkan diperkirakan habis dalam waktu yang tidak akan lama.

Jika tambang habis, Berau mau hidup dari mana? Kira-kira begitulah masalah yang kini tengah dihadapi oleh ‘Kota Tambang’.

Bupati Berau, Sri Juniarsi Mas, tidak menampik hal ini, ia mengaku bahwa Berau memang akan segera melepas predikatnya sebagai ‘Kota Tambang’.

“Berau hidup dari sumber saya alam (SDA) seperti tambang, sawit dan bahari. Tambang pasti habis dan harus bertransisi ke SDA lain, yaitu pariwisata,” ucap Bupati.

Selaku bupati yang menjabat dalam periode kedua, ia tahu betul bahwa pariwisata bukanlah primadona. Tapi sekarang, sektor inilah yang menjadi harapan pertumbuhan ekonomi Berau selanjutnya.

“Dalam 10 tahun ini, kita sudah merancang pariwisata dengan membangun infrastruktur. Ada 100 kampung yang punya potensi pariwisata,” terangnya.

Mungkin tak banyak yang tahu, kalau Maratua, Kakaban dan Derawan adalah bagian dari Kabupaten Berau. Terangkatnya dua pulau ini sebagai destinasi nasional dan internasional, membantu pergerakan pembangunan destinasi lain.

Nama-nama destinasi lain seperti Labuan Cermin, Talisayan, Biduk-biduk atau Kaniunang mulai terpengaruh dan mendapat perhatian.

Maratua jadi yang paling populer, keindahan pasir pantainya yang putih dan sehalus tepung kini dicari oleh turis mancanegara. Sejak Covid, jumlah kunjungan ke pulau itu naik sampai 3 kali lipat, kata Bupati Sri.

Menurut data dari Pemkab Berau, jumlah kunjungan wisatawan sepanjang 2024 melonjak signifikan, dari sebelumnya 422.592 kunjungan menjadi 557.214 kunjungan. Kenaikan lebih dari 134 ribu wisatawan ini tentu berdampak pada sektor-sektor lain. Ada kunjungan, berarti ada data beli.

Turis yang paling banyak datang adalah warga Tiongkok, disusul oleh Rusia dan Italia. Bahkan event Mararua Run yang jadi agenda tahunan mendompleng peningkatan bisnis homestay.

Bupati Berau, Hj. Sri Juniarsih Mas, M.Pd

Peresmian Mercure Berau menjadi salah satu bentuk dukungan pemerintah daerah Berau dalam meningkatkan pariwisata. Hotel yang berada di bawah naungan Accor itu menjadi yang pertama untuk standar internasional.

Bukan cuma menarik wisatawan, Sri Juniarsih juga berharap agar investor pariwisata dapat melihat peningkatan ini dan mau membangun Berau.

Mercure Berau juga tak main-main. Sebuah pojok UMKM disediakan di lobby hotel, di mana para tamu punya banyak kesempatan untuk melihat produk-produk UMKM.

Demi mendukung ini, Mercure tak bagi hasil. Semua harga produk langsung dibayarkan ke rekening UMKM, sehingga UMKM dapat menerima bayaran secara penuh tanpa ada pengurangan.

“Saya harap Mercure mampu menjadi stimulan dan meningkatkan layanan pariwisata, memperpanjang lama tinggal wisatawan dan mendorong ekonomi yang inklusif dan meningkatkan kepercayaan investor yang ada di Berau, yang mana pemerintah kabupaten terus menciptakan lingkungan industri yang cukup antara dunia usaha dan pariwisata,” pungkasnya (*).

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *