“Mulai dari perencanaan, koordinasi teknis hingga proses perijinan telah kami selesaikan, saat ini kami fokus pada tahap pelaksanaan di lapangan termasuk perataan area UMKM dan pemasangan set panggung seni” jelas Nurjatiah
| Editor : Anang Ma
TANJUNG REDEB – Persiapan kegiatan KARRAP FEST 2025 yang digelar oleh Dinas Kebudayaan Dan Pariwisata (Dispudpar) Berau kini telah memasuki tahap akhir.
Tahun ini, ajang yang digagas oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Berau tersebut mengusung tema “Harmoni Budaya, Warisan dan Inovasi Masa Kini.”
Karrap Fest 2025 dirancang sebagai ajang pertemuan para pelaku seni, komunitas lokal, dan pelaku ekonomi kreatif. Selama lima hari penyelenggaraan, pengunjung akan disuguhi beragam pertunjukan, mulai dari tari kreasi tradisional, musik akustik, pantomim, hingga penampilan band lokal dan seni pertunjukan modern.
Menurut Kepala Bidang Usaha Jasa Pariwisata Dan Ekonomi Kreatif Disbudpar, Nurjatiah, penyelenggaraan event ini dijadwalkan berlangsung di Amphiteater Taman Sanggam yang berlangsung 4 – 9 Nopember 2025.
Dengan mengusung konsep penguatan ekonomi berbasis budaya, kegiatan ini juga akan melibatkan puluhan pelaku UMKM serta komunitas seni lokal.
Nurjatiah juga menyampaikan bahwa persiapan event ini hingga saat ini telah mencapai 90 persen.
“Mulai dari perencanaan, koordinasi teknis hingga proses perijinan telah kami selesaikan, saat ini kami fokus pada tahap pelaksanaan di lapangan termasuk perataan area UMKM dan pemasangan set panggung seni” jelas Nurjatiah.
Sejak pertama kali digelar, Karrap Fest telah menjadi salah satu program unggulan Disbudpar yang berfungsi ganda: mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif sekaligus memperkuat promosi pariwisata daerah.
Jika pada 2024 festival ini berlangsung selama 12 pekan di Panggung Mini Tepian Sungai Segah, tahun ini formatnya dibuat lebih padat namun dinamis, tanpa menghilangkan konsep utamanya yakni keberlanjutan dan kedekatan dengan masyarakat.
Nama “Karrap”, yang dalam bahasa Berau berarti “sering”, tetap menjadi simbol semangat keberlanjutan tersebut. Festival ini diharapkan bisa terus hadir sebagai wadah rutin bagi masyarakat untuk bertemu, berkreasi, dan menikmati budaya lokal.
Dalam penyelenggaraannya, Disbudpar juga fokus mendorong perkembangan enam subsektor ekonomi kreatif unggulan, yaitu seni pertunjukan, kriya, kuliner, fashion lokal, musik, dan desain produk (*).
















