Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example 728x250
TANJUNG REDEB

Kerukunan Ormas Dan Paguyuban, Modal Pengembangan Ekonomi Kreatif Berbasis Budaya

×

Kerukunan Ormas Dan Paguyuban, Modal Pengembangan Ekonomi Kreatif Berbasis Budaya

Sebarkan artikel ini

“Adat budaya di Berau sangat heterogen, tapi mereka mampu hidup rukun. Saya berharap terus dapat terjaga keharmonisannya,” ujar Edi Santosa kepada POJOK BORNEO, Sabtu (27/12/2025)

TANJUNG REDEB – Di tengah banyaknya organisasi masyarakat (Ormas) maupun Paguyuban lintas suku dan adat di Bumi Batiwakkal, keharmonisan justru tumbuh semakin kuat.

Example 300x600

Hidup berdampingan dalam keberagaman bukan hanya slogan di Kabupaten Berau, tetapi telah menjadi budaya yang mengakar, kondisi inilah yang mendapat apresiasi dari salah satu Paguyuban yaitu Paguyuban Sedulur Nganjuk (SARUJUK) Berau.

Ketua Paguyuban Sedulur Nganjuk (SARUJUK) Berau, Edi Santosa, SH menilai kerukunan tersebut menjadi modal sosial penting bagi pembangunan daerah. Keberadaan mereka pada dasarnya untuk menjaga kerukunan dan silaturahmi antar masyarakat.

“Adat budaya di Berau sangat heterogen, tapi mereka mampu hidup rukun. Saya berharap terus dapat terjaga keharmonisannya,” ujar Edi Santosa kepada POJOK BORNEO, Sabtu (27/12/2025).

Menurutnya, Ormas dan paguyuban tidak hanya berfungsi sebagai wadah kebersamaan, tetapi juga berpotensi besar mendukung ekonomi kreatif berbasis adat dan budaya.

Ekonomi kreatif berbasis adat dan budaya adalah pengembangan potensi budaya lokal (seni, kerajinan, kuliner, tradisi) menjadi produk dan layanan bernilai ekonomi tinggi melalui inovasi dan kreativitas, menciptakan lapangan kerja, melestarikan identitas bangsa, serta mendorong pertumbuhan ekonomi daerah dan nasional.

Sektor ini mengintegrasikan nilai budaya dengan sentuhan modern, seringkali memanfaatkan teknologi digital untuk pemasaran global, dan melibatkan sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, serta masyarakat untuk kesejahteraan berkelanjutan

Ia menilai, terdapat banya manfaat diantaranya dapat menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan pendapatan, melestarikan budaya dan memperkuat identitas bangsa, mendorong pertumbuhan ekonomi lokal yang inklusif dan berkelanjutan, menarik wisatawan dan mempromosikan pariwisata.

Ia menilai beragamnya agenda kebudayaan yang digelar selama ini menunjukkan kontribusi nyata masyarakat adat.

“Kita bisa lihat, banyak kegiatan budaya dengan keterwakilan adat istiadat yang tumbuh di Berau,” tuturnya.

Ia menambahkan, pemerintah daerah perlu hadir sebagai pembina utama, peraturan daerah tentang perlindungan adat istiadat, kata Edi Santosa, harus menjadi acuan penguatan peran Ormas dan paguyuban dalam pembangunan.

“Ketika mereka ingin ikut berkontribusi membangun Berau, maka harus difasilitasi lewat Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Berau,” pungkasnya (*).

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *