“Kalau anak merasa diperhatikan dan didengar, mereka tidak akan mudah terpengaruh lingkungan yang salah. Pengawasan itu penting, tapi pendekatan yang hangat jauh lebih efektif,” ujarnya
| Editor : Anang Ma
TANJUNG REDEB – Wakil Ketua II DPRD Berau, Sumadi, menyoroti meningkatnya kenakalan remaja yang belakangan ini ramai diperbincangkan publik dinilai bukan sekadar persoalan moral, tetapi juga cerminan melemahnya pengawasan dan komunikasi dalam keluarga.
Ia mengajak seluruh orang tua untuk kembali menguatkan peran rumah sebagai benteng utama pembentukan karakter anak.
Menurutnya, perubahan zaman yang serba cepat termasuk pengaruh media sosial dan lingkungan pergaulan membuat anak-anak dan remaja semakin rentan terhadap perilaku menyimpang. Ia menilai, kasus-kasus viral yang muncul belakangan ini harus menjadi alarm bersama.
“Pergaulan yang tidak terkontrol bisa menghancurkan masa depan anak-anak kita. Ini bukan hanya soal citra, tapi soal masa depan generasi Berau,” tegasnya.
Sumadi menyoroti bahwa dampak pergaulan bebas tidak berhenti pada persoalan etika, melainkan bisa menyeret remaja pada risiko yang lebih serius, mulai dari penyalahgunaan narkoba, seks bebas, hingga tindakan kriminal.
Ia juga mengingatkan bahwa efeknya sering kali berujung pada turunnya prestasi belajar, putus sekolah, bahkan kehamilan di luar nikah.
Ia menekankan bahwa solusi tidak cukup hanya dengan menyalahkan anak. Justru, menurutnya, orang tua perlu membangun komunikasi yang terbuka dan kedekatan emosional agar anak merasa nyaman bercerita dan tidak mencari pelarian di luar rumah.
“Kalau anak merasa diperhatikan dan didengar, mereka tidak akan mudah terpengaruh lingkungan yang salah. Pengawasan itu penting, tapi pendekatan yang hangat jauh lebih efektif,” ujarnya.
Tantangan sosial saat ini tidak bisa dihadapi keluarga sendirian. Perlu sinergi antara orang tua, sekolah, tokoh masyarakat, hingga pemerintah daerah untuk menciptakan lingkungan yang aman dan positif bagi remaja.
Sumadi berharap sekolah tidak hanya fokus pada akademik, tetapi juga penguatan pendidikan karakter. Sementara masyarakat diminta lebih peduli terhadap lingkungan sekitar, termasuk berani mengingatkan jika melihat potensi penyimpangan di kalangan remaja.
“Generasi muda adalah aset daerah. Kalau hari ini kita abai, maka kita sedang mempertaruhkan masa depan Berau,” pungkasnya (*).
















