Kemudian, budaya tersebut diadopsi oleh masyarakat Indonesia. Memang, sejarah bagi-bagi THR benar-benar termaktub secara tertulis dan detail tetapi tradisi ini berkaitan dengan sedekah
| Editor : Anang Ma
TANJUNG REDEB – Menjelang Hari Raya Idul Fitri, sebagian besar masyarakat Indonesia akan menerima berkah berupa uang tunjangan hari raya (THR) yang diberikan perusahaan kepada karyawan atau orang dewasa kepada anak-anak.
Sejarahnya, tradisi bagi-bagi THR berawal dari kebudayaan di negara Timur Tengah. Dalam membagikan uang THR ini masyarakat Indonesia rata-rata menggunakan uang baru, sehingga tradisi THR sangat identik dengan uang baru.
Budaya ini menjadi kegembiraan tersendiri bagi Muslim maupun Non Muslim. Begitu juga bagi para pemberi THR, merupakan bentuk rasa syukur atas harta lebih yang dititipkan kepada mereka.
Kemudian, budaya tersebut diadopsi oleh masyarakat Indonesia. Memang, sejarah bagi-bagi THR benar-benar termaktub secara tertulis dan detail tetapi tradisi ini berkaitan dengan sedekah.
Dalam Islam, sedekah adalah ibadah yang punya pahala yang besar. Terutama jika dilakukan selama bulan Ramadan.
Atas dasar hal tersebut, muncullah akulturasi budaya antara Timur Tengah dan Indonesia. Sehingga setiap Hari Raya Idul Fitri masyarakat yang berlebih hartanya akan berbagi untuk merayakan kemenangan Idul Fitri.
Meski uang THR identik tunai atau dalam bentuk kertas, tak sedikit juga masyarakat yang berbagi THR lewat uang elektronik, ini adalah bentuk pergeseran teknologi.
Berbagi THR lewat uang elektronik tak mengurangi maknanya. THR online tetap menyimbolkan rasa berbagi, peduli, bersyukur dan kesucian (*).
















