“Jadi sekarang sampah itu sudah kami timbun dengan tanah. Makanya sekarang bau busuk sampah tidak lagi terlalu tercium,” kata Andi Ristiyono
| Editor : Anang Ma
TANJUNG REDEB – Masalah sampah menjadi persoalan yang dihadapi semua daerah di Indonesia, tanpa terkecuali Kabupaten Berau. Berbagai upaya terus dilakukan untuk mengurangi sampah, mulai dari pembuatan bank sampah hingga pengolahan sampah menjadi barang yang bernilai ekonomis
Persoalan sampah yang dihadapi tidak hanya sebatas jumlah sampah yang masuk ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Bujagga setiap harinya, lahan yang terbatas kerap menjadi masalah baru yang dihadapi pemerintah daerah (Pemda).
Tidak hanya itu, masalah lainnya yang cukup sulit ditangani adalah aroma sampah yang berbau busuk juga menjadi pekerjaan rumah (PR) bagi dinas terkait di suatu daerah.
Keluhan masyarakat mengenai aroma sampah dari TPA Bujangga menjadi fenomena yang cukup sulit ditangani oleh Pemda.
Di Kabupaten Berau, cara penanganan aroma sampah kurang sedap di TPA Bujangga sudah terus dilakukan oleh DLHK Berau melalui Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) TPA Bujangga.
Pengelola TPA Bujangga melakukan cara untuk mengurangi aroma sampah rumah tangga dengan cara menimbum sampah dengan tanah.
Cara ini sangat ampuh menghilangkan aroma busuk yang dihasilkan sampah di TPA.
Kepala UPTD TPA Bujaggga, Andi Ristiyono mengatakan sekarang ini aroma sampah di TPA Bujangga sudah tidak lagi meresahkan masyarakat
Bahkan ketika berada di lingkungan TPA itu sendiri, aroma sampah juga tidak lagi terlalu menggangu indera penciuman.
“Jadi sekarang sampah itu sudah kami timbun dengan tanah. Makanya sekarang bau busuk sampah tidak lagi terlalu tercium,” kata Andi Ristiyono.
Cara menghilangkan aroma sampah di TPA Bujangga dengan penimbunan menggunakan tanah itu, dilanjutkan Andi sudah delakukan sejak dua tahun lalu.
“Sebelumnya di luar gerbang sana, aroma busuk sudah menyengat ke hidung kita. Sekarang terbuktikan tak ada lagi aroma busuknya,” ungkap Andi.
Andi mengakui penanganan aroma sampah dengan cara itu memang membutuhkan biaya lebih, yaitu pembelian tanah dan Bahan Bakar Minyak (BBM) untuk menggerakkan alat berat.
“Tapi setelah kita usulkan ke dinas untuk ditambah anggaran pembelian BBM dan ternyata disetujui,” terangnya.
Teknis penimbunan sampah itu, dijalaskan Andi setelah sampah terkumpul selama dua atau tiga hari dan ditata menggunakan alat berat, baru sampah dengan jumlah puluhan ton itu ditimbun dengan tanah.
“Kita timbun setiap bulan sekali, atau minimal satu kali dalam dua minggu,” terangnya.
Penimbunan juga harus berpedoman pada cuaca. Petugas terlebih dahulu menunggu sampah dan tanah kering atau tidak dalam keadaan basah. Jika demikian akan menyulitkan petugas yang menggunakan alat berat untuk menata tanah.
“Kalau basah, jadi susah karena licin,” terang Andi lagi.
Ia juga tidak menyangka bahwa teknik penimbunan sampah dengan tanah itu dapat mengatasi masalah bau busuk sampah di TPA Bujangga, meskipun di sisi lain tumpukan sampah menjadi lebih cepat tinggi.
“Memang tumpukan menjadi lebih cepat tinggi, tapi cara ini setidaknya tidak lagi dikeluhkan masyarakat. Alhamdulillah orang sudah senanglah sekarang,” ucapnya (*).
















