Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example 728x250
TANJUNG REDEB

Catatan Ringan, Bagian I : TRENDING TOPIC PEKAN INI

×

Catatan Ringan, Bagian I : TRENDING TOPIC PEKAN INI

Sebarkan artikel ini

Oleh : Drs. Yudha Budisantosa, M.Si 

Editor : Anang Ma

Example 300x600

TANJUNG REDEB (Berau) – Beberapa pekan terakhir di bulan maret ini, kita telah disuguhkan banyak peristiwa terangkum dalam berita yang menjadi “Trending topic”. Dari sekian banyak peristiwa yang menjadi trending, setidaknya ada Lima yang layak menjadi catatan. Tentu saja melihatnya dari sudut pandang dan pengamatan atas kemunculan dan pembahasan berita tersebut. Kemunculan beritanya cukup masif dan menyebar dibanyak media.

PERTAMA, pilihan berita yang menjadi trending topic, pertama adalah berita tentang Hasto Kristyanto, Sekjen PDI-P yang telah ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK dalam kasus suap Harun Masiku. Hasto menjadi tersangka sejak Desember 2024 lalu. Hasto disangkakan memberi suap kepada eks Komisioner KPU, Wahyu Setiawan, terkait penggantian antar waktu (PAW) anggota DPR RI periode 2019-2024. Dan Wahyu Setiawan sendiri telah divonis 7 tahun penjara.

Kini Hasto telah menjadi tahanan KPK dan telah menjalani sidang perdana yang berlangsung di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jumat (14/3/25). Sedang Harun Masiku sendiri sampai saat ini menjadi buron KPK sejak tahun 2020. Dalam sidang ini Hasto didakwa : “Dengan sengaja telah melakukan perbuatan mencegah, merintangi atau mengagalkan secara langsung atau tidak langsung penyidikan terhadap tersangka Harun Masiku”.

Kasus Hasto terus bergulir dan mewarnai berita utama di berbagai media. Kasus Hasto ini menjadi perhatian publik karena Hasto sebagai petinggi partai besar, PDI-P yang selama ini selalu bersuara “keras” terhadap presiden pada waktu itu, Joko Widodo bahkan hingga berakhir masa jabatannya.

Perseteruan antara mantan Presiden Joko Widodo dengan PDI-P yang “direpresentasikan” oleh Hasto sebagai Sekjen Partai mencapai puncaknya ketika PDI-P “memecat” Joko Widodo dan anaknya, Gibran Rakabuming Raka yang saat ini menjadi Wakil Presiden, serta menantunya, Bobby Nasution yang saat ini menjadi Gubernur Sumatra Utara. Ketiganya dipecat dari keanggotaan PDI-P.

Perseteruan antara PDI-P dengan mantan presiden Joko Widodo sudah berlangsung cukup lama, terutama sejak Pilpres 2024. Terlebih setelah ditetapkannya Hasto sebagai tersangka maka perseteruan itu semakin “meruncing”.

Bahkan kini hubungan Pak Jokowi dengan PDI-P kian “panas”dengan adanya pernyataan dari salah satu petinggi PDI-P yang mengatakan bahwa pada Desember 2024, ada utusan yang menemui di Kantor PDI-P Jakarta dan memberitahu bahwa sekjen (Hasto) harus mundur dan jangan pecat Jokowi dari partai.
Oleh sebab itu, pihak PDI P pun meyakini bahwa kasus ini lebih merupakan bentuk “kriminalisasi” dan karena ada “kepentingan politik” oleh pihak tertentu.

Terkait dengan pernyataan tersebut, Pak Jokowi langsung merespon dan menunjukkan sikap “marah” karena selama ini beliau lebih banyak diam, meski difitnah, dicela, dijelekin, dimaki-maki, selalu diam. Mengalah terus, tapi sabar itu ada batasnya, begitu respon beliau.

Kasus ini terus menjadi perhatian publik. Banyak pendapat dan komentar dari pengamat (ahli hukum), akademisi dan praktisi hukum, serta masyarakat luas sehingga putusan yang berkeadilan yang didasarkan atas Ketuhanan Yang Maha Esa betul-betul yang ditegakkan. Mari kita buktikan.

KEDUA, trending topic kedua adalah Fenomena Gubernur Jawa Barat saat ini. Sepertinya warga Bumi Pasundan, Jawa Barat bersyukur punya gubernur seorang Demul (Dedi Mulyadi) atau KDM (Kang Dedi Mulyadi). Bagaimana tidak, KDM begitu selesai dilantik langsung gerak cepat alias gas pol menangani permasalahan di wilayahnya, khususnya masalah lingkungan dengan cara langsung ke lapangan. Sambil banyak “bicara” ketika di lapangan bukan di ruang rapat, KDM langsung mengambil tindakan-tindakan nyata, terukur dan tepat untuk mengatasi permasalahan tadi.

Permasalahan sampah dan banjir yang parah di beberapa daerah, seperti Bandung, Bekasi, Depok, dan Cirebon misalnya masing-masing langsung ditinjau di lapangan dan diambil keputusan untuk solusinya. Semua pihak jelas, siapa melakukan apa. Masyarakat yang terdampak pun dapat menerima keputusannya.

Tidak hanya itu, untuk membersihkan sampah di sungai (Cirebon) yang luar biasa banyaknya, KDM tidak canggung untuk mencebur langsung ke sungai membersihkan sampah tersebut. Hingga, mungkin awalnya terpaksa Bupati dan Forkopimda dan pejabat lainnya ikut mencebur ke sungai membersihkan sampah bersama-sama diikuti masyarakat. Dan memang sampai bersih dari sampah sungainya.

Untuk mengatasi banjir tidak cukup hanya membersihkan sungai dari sampahnya tapi banyak bangunan yang menempati bantaran dan badan sungai juga tak luput ditertibkan. Hanya satu pilihan, dibongkar. Persoalan rumit ini pun dapat diselesaikan di lapangan dengan negosiasi yang adil dan bermartabat. Ini juga salah satu kehebatan KDM dalam menyelesaikan persoalan di lapangan. Tidak banyak membuang-buang waktu dan bertele-tele; rapat-rapat-rapat. Alat berat turun langsung action.

Yang paling fenomenal adalah saat KDM melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke lokasi bangunan di Puncak, Bogor yang tidak sesuai perizinannya. Bangunan-bangunan yang disinyalir sebagai “biang kerok” banjir di hilirnya harus ditertibkan. Sontak KDM mengambil Tindakan tegas dan nyata, Bongkar ! Bangunan di lokasi wisata Hibisc Fantasi yang bernilai miliaaran pun tanpa ampun porak poranda dihancurkan. Padahal belum terlalu lama diresmikan oleh gubernur sebelumnya, Kang Emil (Riduan Kamil).

Pembongkaran puluhan bangunan di lokasi wisata Hibisc Fantasy prosesnya begitu cepat tanpa banyak rapat. Pembongkaran dengan menggunakan sejumlah alat berat. Wajar jika tindakan ini mendapat dukungan dari berbagai pihak dan masyarakat.

Pembongkaran ini untuk menegakkan hukum dan ingin mengembalikan fungsi kawasan puncak Bogor sebagai daerah resapan air berupa kawasan hutan dan perkebunan.

Begitulah terobosan demi terobosa KDM, apa yang dilakukannya benar-benar sesuatu yang “out of the box” di luar “mainstream” kepemimpinan yang ada selama ini. Apa yang dilakukan ini tentu saja butuh “keberanian, ketulusan dan kejujuran” dari seorang KDM dan tanpa ada “konflik kepentingan”. Jika tidak, mana tahan. Kita tunggu aksi KDM selanjutnya (*).

Bersambung…. 

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *