Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example 728x250
TANJUNG REDEB

IKAPAKARTI Berau Menuju Musda: Aklamasi di Depan Mata Atau Manuver Mulai Bergerak?

×

IKAPAKARTI Berau Menuju Musda: Aklamasi di Depan Mata Atau Manuver Mulai Bergerak?

Sebarkan artikel ini

Sebab, setelah Musda selesai, semua pihak tetap akan berada dalam satu rumah besar: IKAPAKARTI Berau

Example 300x600

TANJUNG REDEB – Masa kepemimpinan DPD IKAPAKARTI Kabupaten Berau periode 2021–2026 segera berakhir.

Pergantian nakhoda organisasi pun mulai menjadi perhatian di tengah keluarga besar paguyuban masyarakat Jawa di Kabupaten Berau.

Pertanyaan yang kemudian muncul: apakah proses regenerasi kepemimpinan akan berjalan sejuk dan berakhir dengan aklamasi, atau justru mulai muncul manuver dari sejumlah figur dan kelompok yang memiliki kepentingan masing-masing?

Menjelang sebuah pemilihan organisasi, dinamika seperti ini sebenarnya bukan sesuatu yang aneh. Komunikasi antartokoh biasanya semakin intens, konsolidasi mulai dilakukan, dan masing-masing pihak tentu memiliki cara tersendiri untuk membangun dukungan.

Namun, IKAPAKARTI memiliki karakter yang berbeda. Organisasi ini dibangun dengan semangat guyub, rukun, gotong royong dan kekeluargaan.

Karena itu, perebutan posisi pimpinan idealnya tidak berubah menjadi pertarungan yang justru memecah soliditas antarpaguyuban.

Aklamasi Masih Terbuka

Jika mayoritas paguyuban pilar sepakat mengusung satu figur, bukan tidak mungkin Musda berjalan relatif tenang dan menghasilkan keputusan secara aklamasi.

Model tersebut bahkan dapat menjadi pilihan yang paling sesuai dengan semangat kekeluargaan yang selama ini menjadi identitas IKAPAKARTI.

Tetapi aklamasi tentu tidak bisa dipaksakan. Aklamasi harus lahir dari kesepakatan, bukan sekadar keseragaman di permukaan.

Jika Muncul Lebih dari Satu Kandidat?

Sebaliknya, apabila terdapat beberapa figur yang merasa memiliki kapasitas, jaringan dan dukungan untuk memimpin IKAPAKARTI Berau, maka dinamika pemilihan bisa menjadi lebih menarik.

Persaingan pun seharusnya tidak dilihat sebagai sesuatu yang negatif selama berlangsung secara sehat.

Yang perlu dihindari adalah politik saling menjatuhkan, klaim dukungan yang belum teruji, maupun penggunaan isu internal organisasi sebagai alat untuk memenangkan pertarungan.

Sebab, setelah Musda selesai, semua pihak tetap akan berada dalam satu rumah besar: IKAPAKARTI Berau.

Siapa yang Mampu Menyatukan?

Pertarungan sesungguhnya bukan sekadar mengenai siapa yang mendapatkan kursi ketua.

Tantangan terbesar pemimpin baru justru adalah bagaimana menyatukan seluruh paguyuban pilar, merawat komunikasi, memperkuat kelembagaan dan menyelesaikan berbagai pekerjaan rumah organisasi yang belum tuntas.

Karena itu, figur yang dibutuhkan bukan hanya mereka yang memiliki banyak pendukung, tetapi mereka yang mampu diterima oleh banyak pihak.

Musda nanti pada akhirnya akan menjadi ujian kedewasaan organisasi.

Apakah IKAPAKARTI Berau akan menunjukkan wajah guyub melalui satu nama yang disepakati bersama? Atau dinamika menuju 2026 justru membuka pertarungan sejumlah figur?

Jawabannya mungkin mulai terlihat dari gerak-gerik para tokoh, intensitas komunikasi antarpaguyuban dan arah konsolidasi dalam beberapa waktu ke depan.

Satu hal yang pasti: kursi ketua bisa diperebutkan, tetapi persaudaraan jangan sampai dipertaruhkan (*).

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *