“Kasus naik karena kita makin sering melakukan pemeriksaan. Semua puskesmas rutin melakukan skrining, jadi banyak yang terdeteksi lebih awal,” jelas Nur Hayati
| Editor : Anang Ma
TANJUNG REDEB – Jumlah warga Berau yang mengalami orang dengan gangguan jiwa (ODGJ), mencatat kenaikan signifikan pada 2025. Dinas Kesehatan (Dinkes) Berau melaporkan total 353 kasus, naik drastis dari 342 kasus di tahun sebelumnya. Namun, lonjakan ini dinilai positif karena menunjukkan makin banyaknya masyarakat yang berani periksa. Kepala Seksi Kesehatan Jiwa Diskes Berau, Nur Hayati, menjelaskan kenaikan ini adalah hasil kerja keras program skrining yang kini digalakkan di 21 Puskesmas.
“Kasus naik karena kita makin sering melakukan pemeriksaan. Semua puskesmas rutin melakukan skrining, jadi banyak yang terdeteksi lebih awal,” jelas Nur Hayati, dikutip Senin (27/10/2025).
Dari total 353 kasus, sebagian besar (245 orang) tergolong gangguan ringan. Hanya 108 orang yang didiagnosis mengalami gangguan berat. Pasien gangguan ringan langsung mendapat konseling psikolog di Puskesmas. Menurut Nur Hayati, penanganan cepat ini sangat penting.
“Kalau tidak segera ditangani, gangguan ringan bisa berubah menjadi berat. Karena itu kita arahkan untuk konseling dan terapi rutin,” terangnya.
Untuk kasus berat, Dinkes bekerjasama dengan Dinas Sosial merujuk empat pasien ke fasilitas rehabilitasi intensif di Samarinda dan Banjarmasin. Meski pelayanan sudah menyebar ke 21 Puskesmas, Dinkes Berau masih menghadapi kendala, terutama soal pasokan obat.
“Stok obat sempat kosong karena dulu belum boleh menggunakan APBD II. Sekarang sudah diizinkan lagi, dan kami sudah mengajukan pengadaan untuk tahun depan,” ungkapnya.
Faktor ekonomi menjadi penyebab utama pemicu stres dan gangguan jiwa di Berau. Kenaikan harga kebutuhan pokok, yang menurut data BPS sempat memicu inflasi tinggi pada kelompok makanan di Agustus 2025, sangat memukul warga. Nur Hayati membenarkan kondisi ini.
“Sekarang harga kebutuhan serba naik. Banyak masyarakat yang terbebani secara ekonomi dan akhirnya mengalami tekanan mental. Mayoritas pasien kami berasal dari keluarga tidak mampu,” pungkasnya (*).
















