Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example 728x250
TANJUNG REDEB

Kabut Asap Ganggu Penerbangan Di Berau, Pesawat Batik Air Sempat Dialihkan Ke Balikpapan

×

Kabut Asap Ganggu Penerbangan Di Berau, Pesawat Batik Air Sempat Dialihkan Ke Balikpapan

Sebarkan artikel ini

“Kondisi penerbangan masih terdampak asap, dengan jarak pandang 2.000 sampai 4.000 meter,” ujar Patah

Example 300x600

Tanjung Redeb – Dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Berau mulai mengganggu sektor transportasi udara.

Kabut asap yang menurunkan jarak pandang di Bandar Udara Kalimarau dalam dua hari terakhir menyebabkan sejumlah penerbangan terdampak, termasuk satu pesawat yang sempat dialihkan (divert) ke Balikpapan.

Kepala Badan Layanan Umum (BLU) Bandar Udara Kalimarau, Patah Atabri, mengatakan kondisi penerbangan pada Kamis (3/9/2026) masih dipengaruhi kabut asap. Jarak pandang di kawasan bandara berada pada kisaran 2.000 hingga 4.000 meter.

“Kondisi penerbangan masih terdampak asap, dengan jarak pandang 2.000 sampai 4.000 meter,” ujar Patah.

Meski visibilitas masih dipengaruhi asap, operasional penerbangan pada Kamis berjalan normal. Tidak terdapat penerbangan yang mengalami keterlambatan maupun pengalihan pendaratan.

“Alhamdulillah, operasional penerbangan berjalan normal, tidak ada delay maupun divert,” katanya.

Kondisi tersebut berbeda dengan sehari sebelumnya, Rabu (2/9/2026). Saat itu, jarak pandang di Bandara Kalimarau berada pada kisaran 1.200 hingga 3.500 meter. Penurunan visibilitas tersebut berdampak langsung terhadap sejumlah penerbangan.

Salah satunya Batik Air rute Jakarta–Berau. Pesawat tidak dapat langsung mendarat di Bandara Kalimarau dan harus dialihkan ke Balikpapan.

Kondisi tersebut menyebabkan penerbangan mengalami keterlambatan hingga 3 jam 21 menit.

Sementara Batik Air rute Surabaya–Berau mengalami keterlambatan sekitar 1 jam 20 menit akibat kondisi asap yang memengaruhi jarak pandang di sekitar bandara.

Gangguan penerbangan tersebut menunjukkan dampak karhutla mulai meluas dari persoalan lingkungan menjadi persoalan konektivitas.

Bandara Kalimarau merupakan salah satu pintu utama mobilitas masyarakat serta mendukung aktivitas ekonomi Kabupaten Berau melalui jalur udara.

Pada Kamis, kondisi penerbangan berangsur normal. Pesawat yang dijadwalkan melayani penerbangan ke Berau sudah dapat mendarat di Bandara Kalimarau.

Namun, kabut asap masih menjadi faktor yang perlu diwaspadai karena jarak pandang dapat berubah mengikuti konsentrasi asap di sekitar wilayah bandara.

Pihak Bandara Kalimarau terus memantau perkembangan jarak pandang guna memastikan seluruh operasional penerbangan tetap memenuhi aspek keselamatan.

“Keselamatan penerbangan tetap menjadi prioritas,” tegas Patah.

Kondisi dalam dua hari terakhir menjadi sinyal bahwa karhutla tidak hanya berdampak terhadap kualitas udara dan aktivitas masyarakat, tetapi juga mulai menguji ketahanan konektivitas udara Berau.

Jika kabut asap kembali menebal dan jarak pandang turun signifikan, potensi keterlambatan hingga pengalihan penerbangan dapat kembali terjadi.

Dampaknya bukan hanya dirasakan penumpang, tetapi juga dapat memengaruhi jadwal perjalanan dan aktivitas ekonomi yang bergantung pada kelancaran akses udara (*).

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *