“Inspirasi yang diangkat adalah Kampung Inggris di Pare, di Jawa Timur, kawasan tersebut dikenal sebagai pusat pembelajaran bahasa Inggris terbesar di Indonesia.” ujar Anang
| Editor : Tim PB
GUNUNG TABUR – Yayasan Karuna Ananta Tasuk dalam perbincangan pengurus melontarkan gagasan besar seperti menghadirkan Kampung Inggris sebagai identitas baru Kabupaten Berau.
Diskusi yang dipandu oleh Ketua Yayasan, Ali Rahmat pada Sabtu (07/03/2026) di Sekretariat Yayasan, berbagi pengalaman belajar bahasa Inggris sekaligus membahas pentingnya penguasaan bahasa global untuk memperkuat citra Berau sebagai salah satu destinasi wisata Internasional.
Menurut Humas Yayasan, Anang M Asnan, city branding tidak cukup hanya dengan slogan, namun identitas daerah harus dibangun dari kualitas sumber daya manusia, termasuk kemampuan berbahasa Inggris yang kini menjadi kebutuhan di era global.
“Inspirasi yang diangkat adalah Kampung Inggris di Pare, di Jawa Timur, kawasan tersebut dikenal sebagai pusat pembelajaran bahasa Inggris terbesar di Indonesia.” ujar Anang.
Seperti diketahui, berdirinya Kampung Inggris Pare, berawal pada 1977 oleh Kalend Osen melalui lembaga Basic English Course (BEC), kini ratusan lembaga kursus tumbuh di sana dengan sistem belajar intensif dan lingkungan English Area yang mendorong peserta aktif berbicara bahasa Inggris.
“Konsep serupa dinilai bisa diterapkan di Berau. Kampung Inggris bukan sekadar tempat kursus, tetapi ekosistem belajar yang imersif, terjangkau, dan membangun kepercayaan diri generasi muda.” lanjutnya.
Selain meningkatkan kemampuan bahasa, keberadaan Kampung Inggris juga berpotensi mendorong pertumbuhan ekonomi. Mulai dari pengajar, pengelola Yayasan, pelaku UMKM, hingga jasa transportasi bisa ikut berkembang. Bahkan, konsep ini bisa menjadi daya tarik eduwisata yang mendatangkan pelajar dari luar daerah.
Kabupaten Berau yang memiliki 13 kecamatan dinilai memiliki ruang untuk mengembangkan simpul-simpul Kampung Inggris berbasis komunitas.
“Dengan dukungan pemerintah daerah, swasta, komunitas, dan pelaku ekonomi kreatif, gagasan ini dinilai bukan hal yang mustahil untuk diwujudkan” pungkasnya (*).
















