
TANJUNG REDEB – Berau sedang berada dalam fase penting perjalanan pembangunan. Daerah dengan kekayaan sumber daya alam, potensi pariwisata, wilayah yang luas, serta masyarakat yang terus berkembang itu membutuhkan kepemimpinan yang mampu membaca perubahan sekaligus memahami kebutuhan masyarakat.
Di tengah dinamika tersebut, nama Ir. Dedy Okto Nooryanto, ST menjadi salah satu figur yang menarik perhatian. Politisi kelahiran Tanjung Redeb, 11 Oktober 1977, tersebut kini dipercaya memimpin lembaga legislatif Kabupaten Berau sebagai Ketua DPRD periode 2024–2029.
Dedy terpilih dari Daerah Pemilihan Berau 1 melalui Partai NasDem. Posisi sebagai Ketua DPRD menempatkannya pada salah satu simpul strategis dalam menentukan arah kebijakan pembangunan daerah.
Namun, jabatan tersebut bukan sekadar kehormatan. Di balik kursi pimpinan DPRD terdapat tanggung jawab besar: menyerap aspirasi, menjalankan fungsi pengawasan, mengawal anggaran, serta memastikan kebijakan daerah memberikan manfaat bagi masyarakat.
Dari Aspirasi Masyarakat ke Meja Kebijakan
Bagi seorang pimpinan DPRD, kedekatan dengan masyarakat menjadi modal penting.
Dedy menempatkan aspirasi masyarakat sebagai salah satu bagian penting dalam menjalankan tugasnya. Aspirasi yang diterima tidak sekadar dicatat, tetapi perlu dipetakan berdasarkan kebutuhan dan tingkat urgensinya agar dapat diperjuangkan melalui mekanisme kebijakan daerah.
Dalam pengawalan RPJMD Kabupaten Berau 2025–2029, misalnya, DPRD menempatkan dirinya sebagai bagian dari proses memastikan agenda pembangunan benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat.
Pendekatan tersebut memperlihatkan bahwa fungsi legislatif tidak hanya berhenti pada rapat, pembahasan anggaran maupun produk hukum. DPRD harus hadir sebagai institusi yang mampu menerjemahkan suara masyarakat menjadi kebijakan.
Pemerataan Pembangunan Menjadi Tantangan
Berau bukan daerah kecil. Jarak antarkampung, kondisi geografis, serta kebutuhan infrastruktur dasar membuat pemerataan pembangunan menjadi pekerjaan besar.
Persoalan jalan, konektivitas antarkampung, telekomunikasi, pendidikan dan akses pelayanan dasar masih menjadi bagian dari pekerjaan rumah pembangunan.
Dalam konteks tersebut, Dedy mendorong agar pembangunan tidak hanya berpusat di kawasan perkotaan. Wilayah kampung juga harus memperoleh perhatian yang proporsional.
Ketersediaan jalan yang baik dan akses komunikasi, termasuk pembangunan infrastruktur telekomunikasi, bukan sekadar persoalan fisik. Infrastruktur merupakan pintu masuk bagi pendidikan, pelayanan kesehatan, aktivitas ekonomi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Ketika konektivitas terbuka, peluang masyarakat ikut terbuka.
Membangun Manusia, Bukan Hanya Infrastruktur
Pembangunan Berau ke depan tidak cukup hanya mengandalkan pembangunan fisik.
Kualitas sumber daya manusia menjadi faktor yang tidak kalah penting.
Perhatian Dedy terhadap persoalan pendidikan menunjukkan bahwa pembangunan manusia perlu ditempatkan dalam agenda strategis daerah. Besarnya anggaran pendidikan harus berbanding lurus dengan peningkatan kualitas pembelajaran, kompetensi tenaga pendidik dan hasil pendidikan yang diterima generasi muda.
Hal ini menjadi semakin penting ketika Berau mulai diarahkan untuk tidak selamanya bergantung pada sektor sumber daya alam.
Jika Berau ingin membangun ekonomi yang lebih berkelanjutan, maka generasi mudanya harus dipersiapkan untuk menjadi pelaku utama perubahan tersebut.
Kolaborasi Menjadi Kunci
Politik lokal sering kali identik dengan tarik-menarik kepentingan. Namun, pembangunan daerah membutuhkan pendekatan yang berbeda.
Sebagai Ketua DPRD, Dedy berada dalam posisi untuk membangun komunikasi antara legislatif dan eksekutif. Perbedaan pandangan tetap menjadi bagian dari demokrasi, tetapi kepentingan masyarakat harus menjadi titik temu.
Pengawasan harus tetap berjalan. Kritik harus tetap diberikan ketika kebijakan tidak tepat. Namun, ketika terdapat program yang benar-benar menyentuh kebutuhan masyarakat, kolaborasi menjadi pilihan yang lebih produktif.
Beda fungsi, tetapi satu tujuan: pembangunan Berau.
Generasi Muda di Panggung Politik Berau
Dedy Okto Nooryanto merupakan bagian dari generasi yang kini mulai mengambil peran penting dalam politik daerah.
Posisinya sebagai Ketua DPRD memberikan ruang sekaligus tantangan untuk menunjukkan bahwa kepemimpinan muda bukan sekadar persoalan usia.
Kepemimpinan muda seharusnya identik dengan keberanian menerima perubahan, kemampuan beradaptasi, keterbukaan terhadap kritik dan keberanian mengambil keputusan.
Di sisi lain, Dedy juga dipercaya memimpin DPD Partai NasDem Kabupaten Berau. Posisi tersebut memberikan dimensi politik yang lebih luas dalam perjalanan kariernya.
Namun, semakin besar posisi yang dipercayakan, semakin besar pula ekspektasi masyarakat.
Masyarakat pada akhirnya tidak hanya melihat siapa yang memegang jabatan, tetapi apa yang dilakukan dengan jabatan tersebut.
Pemimpin Masa Depan Berau?
Pertanyaan ini mungkin masih terlalu dini untuk mendapatkan jawaban.
Tetapi perjalanan politik Dedy Okto Nooryanto telah membawanya ke posisi yang strategis untuk ikut menentukan arah Berau.
Berau membutuhkan pemimpin yang mampu melihat daerah bukan hanya untuk lima tahun ke depan, tetapi juga memikirkan seperti apa wajah Berau 10, 20 bahkan 30 tahun mendatang.
Ketergantungan terhadap sumber daya alam harus diimbangi dengan penguatan sektor pariwisata, ekonomi kreatif, pendidikan, pertanian, perikanan, investasi berkualitas dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia.
Di sinilah tantangan kepemimpinan Dedy berada.
Bukan sekadar bagaimana menjadi Ketua DPRD, tetapi bagaimana meninggalkan jejak kepemimpinan yang dirasakan masyarakat.
Sebab seorang pemimpin tidak dikenang hanya karena jabatan yang pernah didudukinya.
Ia dikenang karena keputusan yang pernah diambil, keberanian yang pernah ditunjukkan, kepentingan masyarakat yang pernah diperjuangkan, dan perubahan yang berhasil diwujudkan.
Dedy Okto Nooryanto kini memiliki panggung itu.
Apakah panggung tersebut akan menjadi jalan menuju kepemimpinan Berau di masa depan?
Jawabannya tidak cukup dengan kata-kata.
Rekam jejaklah yang akan berbicara.
Dan perjalanan itu baru saja dimulai (*).
















