Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example 728x250
TANJUNG REDEB

Festival Manutung Jukut 2026 Ditiadakan, Pemkab Berau Antisipasi Risiko Karhutla

×

Festival Manutung Jukut 2026 Ditiadakan, Pemkab Berau Antisipasi Risiko Karhutla

Sebarkan artikel ini

“Festival Manutung Jukut tahun ini kita tiadakan. Mengingat kondisi cuaca kita yang sangat panas dan ada potensi karhutla, kita tidak ingin ada hal-hal yang tidak kita inginkan terjadi,” ujar Sri

Example 300x600

TANJUNG REDEB – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Berau memastikan Festival Manutung Jukut yang selama ini menjadi salah satu rangkaian peringatan Hari Jadi Kabupaten Berau tidak dilaksanakan pada 2026.

Keputusan tersebut diambil sebagai langkah antisipasi menyusul kondisi cuaca panas dan kering yang tengah melanda Kabupaten Berau.

Kondisi ini dinilai meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla), sehingga kegiatan yang melibatkan pembakaran ikan secara bersama-sama dipandang memiliki potensi risiko.

Bupati Berau Sri Juniarsih Mas mengatakan, pemerintah daerah tidak ingin mengambil risiko dengan tetap menggelar festival di tengah kondisi cuaca yang cukup ekstrem.

“Festival Manutung Jukut tahun ini kita tiadakan. Mengingat kondisi cuaca kita yang sangat panas dan ada potensi karhutla, kita tidak ingin ada hal-hal yang tidak kita inginkan terjadi,” ujar Sri.

Meski festival ditiadakan, ikan yang sebelumnya disiapkan untuk kegiatan tersebut tetap akan dimanfaatkan. Pemkab Berau berencana menyalurkannya kepada masyarakat di seluruh wilayah Kabupaten Berau.

“Ikannya tetap kita berikan kepada masyarakat. Nanti akan dibagikan ke 13 kecamatan yang ada di Kabupaten Berau,” jelasnya.

Menurut Sri, faktor cuaca menjadi pertimbangan utama pemerintah dalam mengambil keputusan tersebut. Terlebih, kondisi panas ekstrem yang terjadi saat ini membuat aktivitas yang melibatkan api perlu dipertimbangkan secara matang.

“Kita ini nomor tiga terpanas di Indonesia. Dalam kondisi cuaca yang panas ekstrem seperti sekarang, tidak membakar ikan saja sudah terasa panas, apalagi kita melakukan kegiatan seperti itu,” katanya.

Sri menegaskan, peniadaan Festival Manutung Jukut bukan berarti pemerintah mengabaikan rangkaian peringatan Hari Jadi Kabupaten Berau.

Keputusan tersebut justru merupakan bentuk kehati-hatian untuk mencegah kemungkinan munculnya sumber api yang dapat memicu kebakaran dan berdampak lebih luas.

“Saya tidak menginginkan ada hal yang tidak kita inginkan terjadi nantinya. Lebih baik kita menghindari risiko itu,” tegasnya.

Menurutnya, semangat memperingati Hari Jadi Kabupaten Berau tetap dapat diwujudkan melalui berbagai kegiatan lain yang lebih aman dan disesuaikan dengan kondisi lingkungan.

Di tengah kondisi cuaca panas dan kering, Pemkab Berau juga terus mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi karhutla.

Masyarakat diminta menghindari aktivitas yang dapat memicu munculnya api, terutama di kawasan yang vegetasinya mulai mengering.

Peniadaan Manutung Jukut tahun ini pun menjadi contoh bahwa pelaksanaan tradisi dan kegiatan daerah perlu disesuaikan dengan kondisi lingkungan.

Tradisi tetap dijaga, tetapi keselamatan masyarakat dan kelestarian lingkungan menjadi prioritas (*).

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *