“Prioritas strategis kita tiga ya, padi, jagung sama cabai. Tiga-tiganya menunjukkan penurunan,” kata Lita Handini

Tanjung Redeb – Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Peternakan (DTPHP) Kabupaten Berau memperkuat langkah antisipasi menghadapi kemarau ekstrem yang mulai berdampak terhadap sektor pertanian.
Panas berkepanjangan dan keterbatasan pasokan air membuat sejumlah lahan pertanian mengalami kekeringan. Kondisi tersebut turut berdampak pada produktivitas tiga komoditas pangan strategis Berau, yakni padi, jagung, dan cabai, yang mengalami penurunan produksi.
Kepala DTPHP Berau, Lita Handini, mengatakan kekurangan air menjadi salah satu faktor utama yang menyebabkan produktivitas tanaman menurun. Kondisi itu juga diperparah angin kencang yang meningkatkan risiko serangan hama dan penyakit.
“Prioritas strategis kita tiga ya, padi, jagung sama cabai. Tiga-tiganya menunjukkan penurunan,” kata Lita.
Menurutnya, kondisi tersebut berpotensi mengancam pencapaian target produksi pertanian Berau pada 2026. Musim kemarau yang diperkirakan berlangsung lebih panjang juga berpotensi menggeser jadwal tanam petani.
Untuk menjaga ketersediaan air bagi tanaman, DTPHP Berau telah memberikan bantuan pompa kepada petani yang lahannya mengalami kekeringan, khususnya di wilayah yang sistem irigasinya tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan air.
“Tidak semua lokasi memang ada pompa. Jadi yang masih bisa panen bulan ini ya karena ada bantuan pompa, mereka mengompa dari sumber air,” tuturnya.
Selain mengantisipasi kekeringan, DTPHP juga memperkuat pengendalian hama dan penyakit tanaman melalui Gerakan Pengendalian (Gerdal). Tim diterjunkan ke lokasi berdasarkan laporan petani agar serangan dapat segera ditangani sebelum meluas.
“Kalau ada laporan serangan hama, tim dari dinas turun ke lapangan untuk melakukan gerakan pengendalian. Kita turun bantu melakukan penyemprotan bagi hama dan penyakit,” ungkapnya.
Gerdal telah dilakukan di sejumlah wilayah, antara lain Dumaring, Semurut, Buyung-Buyung, dan Labanan.
Menariknya, DTPHP Berau juga memanfaatkan drone untuk penyemprotan sebagai bagian dari pengendalian hama dan penyakit tanaman. Teknologi tersebut dinilai dapat mempercepat proses penanganan sekaligus menjangkau area pertanian secara lebih efektif.
“Sepanjang petani mengeluh ada serangan hama yang lumayan, tim kita turun. Kita punya drone, jadi kita Gerdal pakai drone karena lebih efektif, lebih singkat waktu pengendaliannya,” katanya.
Namun, Lita mengakui tidak seluruh tanaman yang telah terserang hama dapat diselamatkan, terutama jika tingkat serangan sudah tergolong parah. Karena itu, ia meminta petani segera melaporkan apabila menemukan tanda-tanda serangan hama maupun penyakit.
Sementara bagi tanaman yang masih mampu berproduksi, petani diminta tetap melakukan perawatan, terutama melalui penyiraman secara efektif untuk menjaga tanaman hingga masa panen.
Di sisi lain, dampak kemarau panjang juga berpotensi membuat jadwal tanam bergeser. Kondisi cuaca saat ini dinilai belum cukup mendukung pelaksanaan penanaman secara optimal.
“Rencana tanam kita di Agustus dan September ini kemungkinan akan bergeser sampai Oktober, bahkan mungkin nanti November, Desember baru penambahan tanam, sehingga panen nanti baru di 2027,” tandasnya.
Pergeseran jadwal tanam tersebut menjadi perhatian DTPHP Berau karena dapat berpengaruh terhadap pola produksi dan ketersediaan komoditas pangan di daerah.
Upaya penyediaan air melalui pompa serta pengendalian hama menggunakan drone pun diharapkan dapat membantu petani mempertahankan produktivitas di tengah tekanan kemarau ekstrem (*).
















