“Kami akui, anggaran Rp. 1,2 miliar itu sangat minim jika dibandingkan dengan kabupaten lain seperti Kutai Kartanegara yang mencapai Rp. 8 miliar, Kutim Rp. 6 miliar, bahkan provinsi Rp. 15 miliar” ujar Emi Lestari
| Editor : Anang Ma
TANJUNG REDEB – Menjelang peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia ke-80, 17 Agustus 2025, sejumlah persiapan teknis terus dimatangkan oleh Pemkab Berau.
Salah satunya adalah pembentukan dan kesiapan Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka), yang akan menjalankan tugas utama dalam upacara kenegaraan tersebut.
Kepala Bidang Ideologi, Wawasan Kebangsaan, dan Karakter Bangsa Kesbangpol Kabupaten Berau, Emi Lestari, menyampaikan bahwa secara umum persiapan Paskibraka berjalan tanpa hambatan berarti dan terus dimatangkan, termasuk dari sisi anggaran.
“Sejauh ini persiapan berjalan lancar. Kami sudah mulai proses seleksi sejak Januari, menggunakan sistem aplikasi dari pusat dan melibatkan TNI, Polri, serta PPI di seluruh kecamatan,” ujarnya.
Badan Kesbangpol Berau menerima alokasi anggaran sebesar Rp. 1,2 miliar yang mencakup seluruh proses seleksi, pelatihan, dan pembinaan anggota Paskibraka.
Meski kebutuhan teknis telah tercakup, Emi menilai anggaran tersebut masih jauh dari ideal.
Ia menjelaskan, berdasarkan Permendagri, anggaran untuk kegiatan Paskibraka seharusnya dialokasikan sebesar 0,2 persen dari APBD masing-masing daerah.
Jika APBD Berau sekitar Rp. 6 triliun, maka idealnya mencapai Rp. 12 miliar.
“Kami akui, anggaran Rp. 1,2 miliar itu sangat minim jika dibandingkan dengan kabupaten lain seperti Kutai Kartanegara yang mencapai Rp. 8 miliar, Kutim Rp. 6 miliar, bahkan provinsi Rp. 15 miliar,” ujarnya.
Ia juga mengungkapkan keterbatasan lain, yaitu belum pastinya pelaksanaan kegiatan studi atau kunjungan edukatif pasca upacara sebagai bentuk apresiasi bagi anggota purna Paskibraka.
Kegiatan tersebut biasanya digelar usai upacara, namun tahun ini belum masuk dalam anggaran.
“Tahun ini belum bisa dipastikan. Kalau pun ada, itu di luar dari anggaran Rp. 1,2 miliar. Karena memang kami fokus dulu pada proses pembentukan dan pelatihan sampai selesai,” jelas Emi.
Keterbatasan lainnya adalah belum tersedianya fasilitas pelatihan yang memadai.
Berau belum memiliki pusat pendidikan dan pelatihan atau asrama khusus bagi Paskibraka, sehingga biaya akomodasi menjadi salah satu beban terbesar dalam penggunaan anggaran.
“Nah, berau ini tidak mempunyai tempat pusat pendidikan latihan, maksudnya asrama. Sehingga kegiatan masih dilakukan di hotel dan pelaksanaan latihannya di lapangan Gor Taruna. Dan tidak sedikit biaya untuk proses ini dan ini banyak tersedot biayanya di pembentukan Pustiklet ini” tutupnya (*).
















