“Budaya adalah fondasi kekuatan daerah. Berau tidak boleh meninggalkan tradisi, justru harus memastikan nilai-nilai budaya ini terus hidup dan dikenalkan kepada generasi-generasi yang akan datang,” kata Bupati Sri Juniarsih Mas
TANJUNG REDEB – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Berau berkomitmen meningkatkan kualitas dan daya tarik situs-situs bersejarah yang tersebar di berbagai wilayah di Kabupaten Berau.
Upaya ini dilakukan sebagai bagian dari strategi pelestarian budaya sekaligus pengembangan pariwisata berbasis sejarah dan kearifan lokal.
Bupati Sri Juniarsih Mas mengatakan, bahwa budaya merupakan aset penting yang harus dijaga dan dipelihara secara berkelanjutan.
Menurutnya, kemajuan daerah tidak boleh mengesampingkan nilai-nilai tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun.
“Budaya adalah fondasi kekuatan daerah. Berau tidak boleh meninggalkan tradisi, justru harus memastikan nilai-nilai budaya ini terus hidup dan dikenalkan kepada generasi-generasi yang akan datang,” kata Bupati Sri Juniarsih Mas.
Pemkab Berau memiliki sejumlah program unggulan dalam menjaga aset budaya daerah.
Di antaranya, pembangunan kawasan terpadu, pusat seni, budaya, dan kreativitas berupa taman budaya, pembangunan balai adat, serta revitalisasi bangunan dan kawasan bersejarah.
Program revitalisasi tersebut meliputi kawasan Kota Tua, pembangunan gapura wisata kawasan Kota Tua, revitalisasi Gedung Bioskop lama dan Museum Batu Bara di Kecamatan Teluk Bayur, serta penataan sejumlah makam dan revitalisasi kawasan Kesultanan Sambaliung dan Kesultanan Gunung Tabur.
Bupati menegaskan, bahwa setiap proses revitalisasi harus tetap mempertahankan keaslian bangunan.
“Perbaikan dilakukan tanpa mengubah bentuk awal agar nilai sejarah tetap terjaga,” ujarnya.
Pemkab Berau juga telah melakukan revitalisasi dan pemeliharaan di kawasan Kesultanan Sambaliung dan Kesultanan Gunung Tabur.
“Pelestarian aset bersejarah ini menjadi bagian dari 18 program prioritas Bupati Sri Juniarsih Mas bersama Wakil Bupati Gamalis,” imbuhnya.
Revitalisasi tersebut, kata dia, difokuskan pada perbaikan fisik bangunan, penataan lingkungan sekitar keraton, serta penyediaan fasilitas pendukung guna meningkatkan kenyamanan dan pengalaman pengunjung.
“Pelestarian peninggalan bersejarah ini adalah salah satu cara kami menyampaikan pemahaman tentang masa lalu kepada generasi mendatang,” jelasnya.
Bupati menyebut, setiap tahun Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Berau secara rutin melakukan perawatan terhadap cagar budaya yang telah direvitalisasi.
Pemeliharaan dilakukan pada situs-situs sejarah yang telah terdata dan memiliki payung hukum.
“Setiap tahun kita selalu melakukan pemeliharaan terhadap situs cagar budaya yang sudah memiliki SK,” tandasnya (*).
















